It’s All About God Or Just Our Self

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Sebuah ayat alkitab yang sangat mendorong saya untuk menjadi pribadi yang maksimal dalam dunia ini. Dalam perjalanan untuk merealisasikan ayat tersebut dalam kehidupan yang nyata ternyata butuh proses yang memakan waktu sangat lama. Bukan hal mudah untuk memahami dan mendalami makna sesungguhnya dari kalimat “berbuat segala sesuatu seperti untuk Tuhan.”

Tak dapat dipungkiri bahwa kita sering melakukan aktifitas kehidupan ini dengan fokus kepada manusia dan melupakan Tuhan. Kita sibuk untuk mengejar pujian teman-teman yang ada disekitar kita, selalu ingin mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa, dan menginginkan penghargaan akan apa yang telah kita lakukan. It’s all about us and not God.

Pertama kali memulai dunia kerja, saya diberikan kesempatan untuk melalui proses untuk memahami makna yang sesungguhnya untuk fokus kepada Tuhan dan belajar mengaplikasikannya dalam dunia nyata. Awalnya otak ini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, seperti Berapa besarnya penghasilan yang mampu saya dapatkan, Bagaimana rekan kerja memperlakukan saya, Bagaimana karakter dari pemimpin ditempat saya bekerja, Fasilitas apa yang bisa saya peroleh melalui pekerjaan saya, mampukah saya menyenangkan hati rekan kerja, dan segala pertanyaan lainnya yang terfokus pada diri saya sendiri dan manusia lainnya. Belum-belum mulai bekerja, saya sudah memiliki harapan yang tinggi tentang apa yang akan memuaskan kehidupan saya secara pribadi.

Akhirnya kenyataan  pun berkata lain, semua hal yang saya kerjakan dan harapkan ternyata tidak semulus seperti yang diperkirakan sebelumnya. Ketika tidak mendapatkan penghasilan yang sesuai, pemimpin tempat kerja yang tidak baik, rekan kerja yang seringkali ingin menjatuhkan kita dan terjadinya berbagai konflik didalamnya, pada akhirnya hanya mendatangkan kekecewaan   belaka. Sakit hati, marah, dengki, kesal, dan perasaan negatif lainnya akhirnya memenuhi hati ini. Mata ini pun akhirnya semakin terbuka lebar, ketika kita melakukan apapun dalam hidup dan fokus kepada manusia maka hanya akan berakhir dengan kekecewaan.

Pelan-pelan saya mencoba berusaha untuk tidak terfokus dengan pendapat, penilaian, dan perlakuan orang lain terhadap diri saya sendiri. Berharap pada manusia hanya mendatangkan kekecewaan. Sebelum semua terlambat, saya mencoba untuk berbalik arah dengan belajar melakukan segala sesuatu hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Jika dipikirkan kembali, memang seharusnya itulah yang saya lakukan karena saya adalah ciptaanNya. Kemampuan yang saya miliki semua berasal dari padaNya dan sudah seharusnya dikembalikan sebagai persembahan yang hidup sebagai ucapan syukur atas perbuatanNya yang ajaib dalam hidup ini. Namun, itulah hidup ada saat dimana kita akan jatuh dan disadarkan kembali untuk jalan di jalur yang benar. Dan saya pun merasa bersyukur karena pernah jatuh dan pernah melakukan kesalahan karena saya disadarkan bahwa manusia itu rapuh dan lemah jika hidup tanpa kekuatan Tuhan.

Setelah saya coba jalani hidup dengan fokus kepada Tuhan, ternyata menghasilkan hal-hal luar biasa yang tak terduga. Ketika kita melakukan “segala sesuatu seperti untuk Tuhan” seperti ayat diatas, maka kita akan melakukan setiap aktifitas keseharian kita dengan kemampuan yang terbaik dan menjadi pribadi yang maksimal. Dan tentunya, kita mampu terhindar dari perasaan kecewa karena Tuhan tidak pernah mengecewakan. Pada akhirnya It’s all about God and not our self. 

Dimanakah dirimu berada?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: