I Wanna Become a Better Person

Dalam suatu kesempatan, saya dipilih menjadi salah satu anggota dalam organisasi yang cukup melibatkan banyak pihak yang memiliki beragam usia mulai dari remaja hingga usia dewasa. Kesempatan yang luar biasa buat saya secara pribadi, senang dan terharu semua bercampur aduk.

Saat itu saya hanya dipenuhi perasaan excited sehingga membuat sangat bersemangat untuk segera merealisasikan rencana – rencana dari organisasi tersebut. Persiapan demi persiapan pun segera dimulai, pertemuan untuk seluruh panitia yang terlibat juga mulai dilakukan. Sejak dulu, saya memang sangat menyukai organisasi karena memiliki tantangan yang cukup menarik buat saya secara pribadi. Bergabung dengan perkumpulan seperti ini sama halnya dengan kita belajar untuk hidup dalam lingkungan masyarakat namun memang dalam lingkup yang lebih sederhana. Banyak keuntungan yang bisa didapatkan dalam berorganisasi,buat saya secara pribadi hal tersebut memberikan banyak pelajaran serta pengalaman baru dalam menghadapi dan menjalani dunia kerja.

Berada didalam sebuah organisasi tidak dapat dikatakan MUDAH. Terlalu banyak “kepala” maka akan menjadi semakin rumit karena terlalu banyak keinginan dan tujuan yang berbeda – beda antara satu dengan yang lainnya. Nah, disinilah seru nya berorganisasi..

Dalam beberapa organisasi, saya hanya menjadi seorang “anak bawang” karena usia yang lebih muda diantara yang lainnya. Namun tidak membuat saya berkecil hati ataupun rendah diri karena hal tersebut. Disakiti, dijadikan “kambing hitam”, dimarahi dengan kata – kata kasar maupun nada tinggi akhirnya menjadi makanan sehari – hari yang tidak dapat dihindarkan.

Sakit hati, marah, kesal, menangis, putus asa..semua pernah saya rasakan melalui organisasi tapi tidak membuat saya menyerah begitu saja untuk memecahkan teka teki dalam persoalan tersebut.

Saya berpikir konflik menjadi salah satu bagian yang menjadi pembelajaran yang tidak ternilai harganya, membentuk karakter seseorang menjdi “tahan banting” dan tidak manja yang cenderung “cengeng”

Kalau dipikirkan kembali mengapa konflik itu bisa terjadi.. ?

ketika aku memperhatikan apa yang ada disekitar ku saat itu, aku hanya bisa melihat semua orang membuka mulutnya, mengeluarkan pemikiran mereka masing – masing tanpa memikirkan pendapat lainnya dan langsung memiliki emosi yang tinggi ketika ada yang bertolak belakang dengan pendapatnya..

  ” WE ARE SLOW TO LISTEN, QUICK TO SPEAK AND QUICK TO BECOME ANGRY…”

Kutipan kalimat menggambarkan realita kita sebagai manusia yang memiliki tingkat egois yang cenderung tinggi, selalu ingin menang sendiri, selalu mau menjadi pusat perhatian, merasa harus mendapat perlakuan yang lebih baik dari yang lain, merasa layak menjadi yang terbaik tanpa memikirkan orang lain..

Konflik memang selalu ada namun kita bisa berusaha untuk tidak membuat rumit konflik yang ada, memperkecil akibat dari konflik tersebut serta menyelesaikannya dengan menekan setiap rasa “egois” yang ada dalam setiap pribadi kita.

Jangan terlalu cepat mengeluarkan kata – kata tanpa dipikirkan secara bijaksana. Jangan sampai kita kalah dengan konflik yang ada..

Bagaimana caranya?

Kita dapat memulainya dengan tidak terbawa situasi emosional sesaat, menjadi pribadi yang bijaksana dengan menyelesaikan setiap persoalan tanpa harus melibatkan emosi.

Dengarkan apa yang seharusnya kita dengarkan, selesaikan apa yang seharusnya kita selesaikan, dan katakan apa yang seharusnya dikatakan..

Alangkah indahnya jika kita semua bisa hidup damai dengan orang – orang yang ada di sekitar kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: